a. Atap berbentuk seperti tanduk kerbau.
Atap Rumah Gadang Bentuk atap Rumah Gadang (Gonjong) memanjang berbentuk lengkung seperti tanduk kerbau. Tersusun dengan rapi di bagian atas Rumah Gadang. Bahan dasar atap Rumah Gadang adalah ijuk. Kemiringan atap yang sangat tajam memudahkan air hujan jatuh dengan cepat mengalir sehingga atap akan cepat kering. Kemudian karena kemiringan atas yang sangat tajam menyebabkan atap melengkung, sehingga mengurangi daya serap energi matahari. Atap ijuk berfungsi menyerap sinar matahari pada siang hari. Pada malam harinya ijuk akan membawa hawa hangat ke dalam rumah.
Dikarenakan tekanan suhu udara dingin menekan panas, kondisi ini menyebabkan suhu udara siang hari akan sejuk dan pada malam hari lebih panas. Pemikiran ini didasarkan karena Sumatra Barat merupakan daerah pegunungan dan udara pada malam hari sangat dingin. Sehingga penghuni Rumah Gadang tidak akan merasa dingin. Atap Berbentuk Tanduk Kerbau Susunan atap yang menyerupai tanduk kerbau menjadi ciri khas yang unik dari Rumah Gadang. Atap yang saling disusun satu dengan yang lainnya, semakin mengokohkan bangunan atas Rumah Gadang.
Bagian atap Rumah Gadang yang berbentuk tanduk kerbau, tersusun atas rangkaian kayu pilihan yang panjang. Penyusunan kayu tersebut dibentuk semakin besar ke atas agar tidak mudah roboh. Ide ini lahir dari pemikiran nenek moyang. Bahkan, memberikan inspirasi bagi pembangunan arsitektur zaman modern. Dengan arsitektur yang cukup rumit, membuat siapa pun yang melihatnya merasa terkagum. Bagian atapnya yang meruncing seperti tanduk Gadang saja, jumlah atap meruncing ini bisa lebih dari 4 atau 6 buah. Jika dahulu atap meruncingnya ini masih terbungkus ijuk. Seiring dengan perkembangan zaman, kini telah marak atap Rumah Gadang yang dibuat dengan menggunakan seng.
b. Ada banyak pilar dan lanjar.
Rumah Gadang termasuk juga dalam rumah panggung. Hal ini dikarenakan rumah gadang memiliki banyak pilar yang kokoh dan kuat. Pilar -pilar itu membentuk empat ruangan memanjang yang disebut sebagai lanjar. Dari empat lanjar itu terdapat tiga lanjar pertama yang berfungsi sebagai ruang tamu dan ruang keluarga. Sedangkan lanjar terakhir digunakan sebagai kamar tidur.
c. Jumlah kamar sesuai dengan penghuni Perempuan.
Ciri khas dari rumah adat Minangkabau ini adalah jumlah kamarnya yang dibuat berdasarkan jumlah penghuni Perempuan, bagi Perempuan yang sudah menikah akan diberikan kamar khusus yang lebih tertutup.
d. Dilengkapi dengan tiang-tiang anti gempa.
Rumah gadang dibuat sangat kokoh hal ini dilakukan mengingat wilayah Sumatera Barat cukup rawan pada gempa bumi. Yang membuat rumah gadang tahan gempa adalah rumah ini buat dengan batu santu sebagai penyangga pilar utama.
Rumah Gadang memiliki tiang yang tidak lurus atau vertikal tapi punya kemiringan. Tiang penyangga Rumah Gadang yang menyerupai kapal. terombang-ambing oleh ombak. Karena daerah Sumatra Barat memiliki gunung berapi yang aktif sehingga akan mungkin terjadi gempa. Kemudian daerah Sumatra Barat yang terletak di pinggiran pesisir pantai, terdapat patahan lempengan yang memiliki potensi gempa sangat tinggi. Oleh karena itu, nenek moyang memiliki pemikiran bagaimana membangun rumah yang tahan gempa. Sehingga jika terjadi gempa, prinsip kapal tadi digunakan dalam dasar pembangunan Rumah Gadang. Ketika gempa, Rumah Gadang terasa diayun-ayun seperti dihempas ombak.
e. Sandi
Setiap tiang-tiang Rumah Gadang diletakkan sandi (batu yang cukup besar dan rata bagian atasnya) sebagai penyangga antara tiang dengan tanah. Sandi ini tempat berdirinya tiang-tiang utama Rumah Gadang. Fungsi sandi adalah 1) Menahan air tanah ke tiang-tiang, sehingga tiang tahan lama. 2) Memperlebar luas permukaan yang bersentuhan dengan tanah, artinya memperkecil gaya berat ke tanah. 3) Goyangan (getaran) mendatar di tanah tidak langsung dirasakan pada tiang bangunan. Jika terjadi gempa akan bergoyang atau berayun saja dan menahan rumah untuk tidak roboh. Dapat dilihat begitu banyak Rumah Gadang yang sudah berpuluh-puluh tahun dapat tetap berdiri dengan kokoh.
f. Tidak menggunakan paku.
Rumah Gadang tidak menggunakan paku. Dalam arsitektur Rumah Gadang dikenal dengan nama pasak kayu yang berfungsi sebagai pengganti paku. Ketika terjadi gempa, pasak kayu ini akan mengikuti gerak tiang-tiang penyangga sehingga ritme gerakan tiang diikuti oleh pasak kayu. Kondisi ini mengakibatkan Rumah Gadang tetap berdiri tegap dan saling menopang antara pasak dan tiang-tiangnya jika terjadi gempa pasak akan semakin kuat menyangga tiang-tiang.
g. Dapur terpisah dari rumah utama.
Rumah adat Minangkabau ini meletakan dapurnya terpisah dari rumah utama. Dapur biasanya akan berada di halaman belakang rumah utama. Dapurnya dibuat sangat megah dan nyaman.
h. Terdapat rangkiang di pinggir rumah.
Rangkiang adalah lumbung berupa rumah kecil yang ada di pinggir rumah gadang. Fungsi dari rangkiang ini untuk menyimpan persediaan makanan. Rangkaian memiliki loteng segitiga yang disebut sebagai singkok.
i. Pintu Rumah Gadang Tidak Menghadap ke Jalan.
Makna dari pintu menyamping atau tidak menghadap ke jalan, bahwa, aktivitas di dalam Rumah Gadang tidak terlihat langsung dari luar rumah. Sebisa mungkin, kegiatan di dalam Rumah Gadang yang biasanya dihuni oleh para perempuan akan lebih terjaga. Selain itu, juga untuk mengurangi terjadinya penyimpangan atau penilaian buruk oleh masyarakat yang lalu-lalang di depan rumah.
j. Anti rayap.
Rumah Gadang menggunakan kayu berkualitas tinggi yang telah melalui proses perendaman berhari-hari (bahkan bertahun-tahun) dalam air atau lumpur sebelum digunakan. Proses ini membuat kayu menjadi lebih awet, tahan lapuk, dan tidak disukai rayap. Pemilihan kayu, menggunakan kayu berkualitas terbaik seperti kayu surian atau jati untuk dinding, lantai, dan tiang. Proses perendaman, kayu direndam dalam air mengalir atau lumpur selama beberapa waktu. Tujuannya adalah agar kayu menjadi lebih kuat, awet, dan tidak mudah dimakan rayap.
k. Ukiran di Rumah Gadang
Seni bangunan pada bangunan tradisional Minangkabau merupakan perpaduan seni arsitektur dan seni ukiran. tiga jenis berdasarkan inspirasi terbentuknya ukiran. Pertama adalah ukiran yang terinspirasi dari nama tumbuh-tumbuhan. Kedua adalah ukiran yang terinspirasi dari nama hewan. Ketiga adalah ukiran yang terinspirasi dari benda-benda yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Menjadi sesuatu yang unik, bahwa ukiran Rumah Gadang mengandung ornamen dengan motif dedaunan, bunga, dan akar-akaran. Bahwa, ternyata semua jenis ukiran tersebut menunjukkan unsur penting pembentuk budaya Minangkabau bercerminkan kepada apa yang ada di alam. Budaya Minangkabau adalah suatu budaya yang berguru kepada alam dengan istilahnya “Alam Takambang Jadi Guru”. Seni ukir tradisional Minangkabau merupakan gambaran kehidupan masyarakat yang dipahatkan pada dinding Rumah Gadang, merupakan wahana komunikasi dengan memuat berbagai tatanan sosial dan pedoman hidup bagi masyarakatnya.