Wednesday, 10 June 2026

Segelas Buttershotch Coffee Latte Sebelum Pulang

0 comments

 


Segelas Buttershotch Coffee Latte Sebelum Pulang

Sebuah Cerpen sangat singkat penuh makna


Pintu itu tidak benar-benar tertutup. Ia menyisakan sedikit renggang seolah memberi kesempatan untuk seseorang yang mungkin ingin kembali. Saat ditanya siapa yang ditunggu? Ia tidak menjawab, hanya mengalihkan pandangannya pada meja yang tepat di depannya. 

Segelas  butterscotch coffee latte tergelatak lebih dari enam puluh menit. Embun di sekeliling gelas itu mulai turun menjadi butiran air yang membasahi permukaan meja. 

“Mengapa tidak kau sentuh aku?” Masih tidak ada jawaban darinya.

Dan kau tahu? Itu adalah minuman kesukaannya yang tak pernah gagal membuat ia bergairah kembali menghadapi kehidupannya. Jadi apa yang salah dengan butterscotch coffee latte itu? Takaran gula merah dan mentega yang menjadi karamel seperti biasa, campuran espreso dan susu krim tidak berubah, dan bahkan jumlah es batunya masih sama. 

Baca Juga: Cerpen Sri Memilih

Tangannya memegang gawai. Di belakangnya ada siluet apel yang ditinggal pada gigitan pertamanya. Kerlingan matanya tertuju pada sebuah foto yang muncul atau sengaja ia munculkan di layar gawainya. Foto yang ia ambil empat tahun silam di tempat yang sama saat ia duduk sekarang. Hujan pun turun di sudut matanya. Makin dalam ia tatap, makin deras hujan itu. 

Ingatannya berputar pada tahun-tahun silam. Menyantap mix plater dan butterscotch coffee latte. Hal yang istimewa bukanlah mural bunga sakura yang mekar di dinding atau dekorasi yang estetik. Namun kehadiran matcha latte. Bibirnya bagai pantulan rembulan di permukaan air yang tenang dan senyumnya seindah embun pagi yang menyapa dedaunan. Ialah gadis pujaan. 

Ia belum lupa dengan indahnya impian hidup berdua. Menata rumah dengan butiran cinta dan membangun tangga menggunakan kasih murni, sehingga pantas disebut rumah tangga. Memiliki buah hati sehingga aku dengar kau dipanggil ibu, dan ayah panggilanku. Namun itu tidak benar-benar ada. Terlalu sakit untuk diingat dan terlalu perih untuk diceritakan. Biarkan ia menjadi halaman yang tak akan dibuka sekali pun jua. 

Ia beranjak pergi meninggalkan segelas butterscotch coffee latte yang tak disentuh. Ia sempat berkata, kau harus tetap di sini, hingga matcha latte matcha latte datang bersama orangnya. Dan aku pastikan, akan datang kembali menjemput rasa yang kita tulis dalam bab yang belum tuntas.


Leave a Reply