Sunday, 12 April 2026

Struktur Kurikulum IPS SD

0 comments

 



Struktur Kurikulum IPS SD

1. Landasan Struktur Kurikulum IPS SD

Landasan struktur Kurikulum IPS di Sekolah Dasar (SD) dalam konteks pendidikan modern di Indonesia (khususnya pada Kurikulum Merdeka) berpijak pada empat pilar utama. Landasan ini menjadi alasan mengapa materi disusun sedemikian rupa dan mengapa pendekatan integratif (IPAS) digunakan.

Berikut adalah penjelasan rinci mengenai landasan tersebut:

a. Landasan Filosofis

Landasan ini berkaitan dengan pandangan tentang hakikat pengetahuan dan bagaimana siswa belajar.

Konstruktivisme: Memandang bahwa pengetahuan sosial tidak "dipindahkan" dari guru ke siswa, melainkan dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman dan interaksi.

Perenialisme & Esensialisme: Meskipun inovatif, kurikulum tetap berpijak pada nilai-nilai luhur dan pengetahuan esensial (seperti sejarah bangsa dan norma sosial) yang dianggap penting untuk menjaga keberlangsungan peradaban.

Progresivisme: Mendorong pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered) dan pemecahan masalah nyata di masyarakat.


b. Landasan Yuridis (Hukum)

Landasan ini merupakan payung hukum yang melegitimasi struktur kurikulum tersebut.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003: Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa kurikulum SD wajib memuat Ilmu Pengetahuan Sosial.

Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024: (Sesuai regulasi terbaru 2024-2026) yang mengatur tentang Kurikulum Merdeka, di mana IPS di SD diintegrasikan menjadi IPAS pada Fase B dan Fase C.

Keputusan Kepala BSKAP Nomor 032/H/KR/2024: Mengenai Capaian Pembelajaran (CP) yang menjadi acuan utama dalam menentukan isi dan struktur materi IPS.

Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025: Mengenai Capaian Pembelajaran (CP) yang menjadi acuan utama dalam menentukan isi dan struktur materi IPS.


c. Landasan Psikologis

Landasan ini menyesuaikan struktur materi dengan tahap perkembangan kejiwaan anak SD.

Teori Perkembangan Kognitif (Piaget): Siswa SD berada pada tahap operasional konkret. Oleh karena itu, struktur kurikulum disusun mulai dari hal-hal yang konkret (diri sendiri dan keluarga) menuju yang abstrak (negara dan dunia).

Teori Sosial (Vygotsky): Menekankan pentingnya interaksi sosial dalam belajar. Ini melandasi struktur elemen "Keterampilan Proses" yang menuntut siswa untuk berdiskusi, mewawancarai, dan bekerja kelompok.


d. Landasan Teoretis-Pedagogis

Landasan ini berkaitan dengan teori-teori pendidikan yang digunakan dalam pengorganisasian materi.

Pendekatan Spiral (Spiral Curriculum): Materi tidak diberikan sekali habis, tetapi diperkenalkan secara sederhana di kelas rendah dan diperdalam di kelas tinggi (misalnya: konsep ekonomi "pasar" dipelajari di kelas 3 sebagai tempat jual-beli, dan di kelas 6 sebagai bagian dari perdagangan internasional).

Pendekatan Interdisipliner (Integratif): Landasan ini mendasari penggabungan IPA dan IPS menjadi IPAS. Tujuannya agar siswa melihat fenomena secara utuh (holistik). Contoh: Belajar tentang "Banjir" melibatkan aspek alam (IPA) dan perilaku manusia/sosial (IPS).

Pendidikan Nilai dan Karakter: Struktur IPS tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter (Profil Pelajar Pancasila), seperti gotong royong, berkebinekaan global, dan bernalar kritis.

Ringkasan Fungsi Landasan

Landasan Kontribusi pada Struktur IPS

Filosofis Menentukan arah dan nilai-nilai yang ingin dicapai.

Yuridis Menjamin legalitas dan standarisasi pembelajaran.

Psikologis Memastikan materi sesuai dengan kemampuan otak anak.

Teoretis Mengatur cara penyajian materi agar efektif dan bermakna.


2. Struktur Berdasarkan Fase Pembelajaran

Berbeda dengan kurikulum berbasis kelas per tahun, Kurikulum Merdeka menggunakan sistem fase yang memungkinkan pembelajaran lebih fleksibel sesuai kecepatan belajar siswa.

Pembagian struktur berdasarkan fase merupakan salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka yang membedakannya dengan sistem kelas pada kurikulum sebelumnya. Dalam mata pelajaran IPS (yang di SD terintegrasi dalam IPAS), fase memberikan ruang bagi siswa untuk belajar sesuai dengan tahap perkembangan kognitifnya tanpa terburu-buru oleh target tahunan yang kaku.

Berikut adalah penjelasan rinci mengenai struktur IPS pada setiap fase di Sekolah Dasar:

a. Fase A (Kelas 1 dan 2): Fase Fondasi Sosial

Pada fase ini, IPS belum berdiri sebagai mata pelajaran tersendiri. Namun, nilai-nilai sosial mulai ditanamkan sebagai fondasi.

Fokus Materi: Pengenalan diri, identitas, dan lingkungan rumah serta sekolah.

Integrasi: Muatan IPS disisipkan dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Bahasa Indonesia.

Target Kompetensi:

Siswa mampu menyebutkan identitas diri dan anggota keluarganya.

Siswa memahami peran dan tanggung jawabnya di rumah dan sekolah.

Siswa mampu menjelaskan letak rumah atau sekolah secara sederhana menggunakan kosa kata ruang (depan, belakang, kanan, kiri).


b. Fase B (Kelas 3 dan 4): Fase Eksplorasi Lokal

Di fase ini, siswa mulai mempelajari IPAS secara formal. Struktur materinya dirancang untuk membawa siswa keluar dari "lingkaran diri" menuju "lingkaran masyarakat".

Fokus Materi: Lingkungan kabupaten/kota dan provinsi.

Struktur Pembelajaran:

Geografi Lokal: Mengenal bentang alam daerah tempat tinggal (sungai, dataran tinggi, pantai) dan pengaruhnya terhadap mata pencaharian penduduk.

Sejarah Lokal: Memahami bahwa daerah tempat tinggal mereka memiliki sejarah, tokoh penting, dan peninggalan yang harus dijaga.

Ekonomi Dasar: Mempelajari alur kegiatan ekonomi sederhana di pasar atau lingkungan sekitar dan mengenal alat tukar (uang).

Keragaman Budaya: Mengenali tradisi, pakaian, dan makanan khas yang ada di daerah mereka.


c. Fase C (Kelas 5 dan 6): Fase Literasi Nasional & Global

Fase ini merupakan tahap pematangan sebelum siswa melanjutkan ke jenjang SMP. Struktur materi menjadi lebih luas, kompleks, dan menuntut kemampuan analisis yang lebih tinggi.

Fokus Materi: Wilayah NKRI dan interaksi internasional.

Struktur Pembelajaran:

Wawasan Nusantara: Indonesia sebagai negara kepulauan (maritim) dan agraris dalam peta dunia. Memahami letak geografis dan astronomis.

Sejarah Nasional: Mempelajari linimasa sejarah perjuangan bangsa, mulai dari era kerajaan-kerajaan nusantara, masa kolonial, hingga proklamasi kemerdekaan.

Globalisasi: Bagaimana teknologi informasi mengubah kehidupan sosial dan ekonomi, serta posisi Indonesia dalam organisasi dunia (seperti ASEAN).

Pelestarian Lingkungan: Analisis mengenai masalah lingkungan hidup secara nasional dan cara penanggulangannya secara berkelanjutan.


3. Elemen Utama dalam Struktur Kurikulum IPS

Dalam struktur Kurikulum Merdeka, IPS (yang di jenjang SD tergabung dalam IPAS) tidak lagi hanya dipandang sebagai kumpulan materi hafalan, melainkan sebuah kesatuan kompetensi yang terdiri dari dua elemen utama.

Pemisahan elemen ini bertujuan agar siswa tidak hanya memiliki pengetahuan secara teoritis (tahu apa), tetapi juga memiliki keterampilan teknis sebagai ilmuwan sosial cilik (tahu bagaimana).

Berikut adalah penjelasan rinci mengenai kedua elemen tersebut:

a. Elemen Pemahaman IPS

Elemen ini berfokus pada penguasaan konsep-konsep dasar ilmu sosial secara multidisipliner. Pemahaman ini mencakup kemampuan siswa dalam mengidentifikasi, mengonsepkan, dan menyimpulkan berbagai fenomena.

Cakupan dalam elemen pemahaman meliputi:

Keruangan dan Konektivitas Antar Ruang: Memahami bagaimana lokasi dan kondisi geografis memengaruhi cara manusia hidup dan berinteraksi.

Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan: Memahami alur sejarah, menyadari bahwa apa yang terjadi di masa lalu memengaruhi masa kini, dan masa kini akan menentukan masa depan.

Kebutuhan dan Kelangkaan: Memahami konsep ekonomi dasar, bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidupnya di tengah keterbatasan sumber daya.

Identitas, Interaksi, dan Institusi Sosial: Memahami peran diri dalam masyarakat, keragaman budaya, serta aturan atau lembaga yang mengatur kehidupan bersama.


b. Elemen Keterampilan Proses

Elemen ini merupakan "ruh" dari pembelajaran IPS. Keterampilan proses adalah serangkaian tindakan yang dilakukan siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui langkah-langkah ilmiah.

Struktur dalam keterampilan proses meliputi:

Mengamati: Siswa menggunakan panca indera untuk memperhatikan fenomena sosial di lingkungannya (misalnya: mengamati keramaian di pasar).

Mempertanyakan dan Memprediksi: Siswa dilatih untuk menyusun pertanyaan kritis (seperti: "Mengapa harga cabai naik?") dan membuat dugaan awal.

Merencanakan dan Melakukan Penyelidikan: Siswa belajar cara mencari data, baik melalui wawancara sederhana dengan narasumber, observasi lapangan, atau membaca buku di perpustakaan.

Memproses dan Menganalisis Data: Kemampuan mengelola informasi yang didapat untuk menjawab pertanyaan yang telah diajukan sebelumnya.

Mengevaluasi dan Refleksi: Mengkritisi hasil temuannya sendiri dan menyadari apakah ada bias atau kesalahan dalam prosesnya.

Mengomunikasikan Hasil: Menyampaikan apa yang telah dipelajari dalam berbagai bentuk, seperti laporan tertulis, poster, presentasi, atau melalui media digital.


Implementasi dalam Kelas. Jika seorang guru mengajarkan materi tentang "Keragaman Budaya Indonesia":

Elemen Pemahaman: Siswa mengetahui nama-nama suku, rumah adat, dan tari tradisional (Konsep).

Elemen Keterampilan Proses: Siswa mewawancarai teman sekelas yang berbeda suku, mengumpulkan foto baju adat, lalu mempresentasikannya di depan kelas (Proses).


Leave a Reply