ALT_IMG

BUKAN PRESTASI TAPI HARUS BERBAGI

Bukan Prestasi Tapi Harus Berbagi. Orang yang sukses adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Orang yang berhasil mereka tak henti belajar dari manapun. Readmore...

ALT_IMG

ARSIP SIMPUL PEMERSATU BANGSA

Sejarah itu ada karena diarsipkan dengan baik, mengarsipkan segala sesuatu adalah kebiasaan baik yang perlu dimulai dari diri sendiri. Readmore..

Alt img

RUMAH GADANG MAIMBAU PULANG

Keharusan yang tidak tertulis bagi laki-laki Minang adalah merantau. Merantau adalah trasidi yang tak terpisahkan dari kebiasaan orang Minang, tidak sedikit pepatah dan petuah adat tentang merantau. Readmore...

ALT_IMG

BIARKAN LAUT YANG BERBICARA

Ketika kata tak didengar, sapaan tak dihiraukan, dan nasehat tak dilakukan, biarkanlah laut kan bicara dengan ombak perantara. Sudah Cukup Tak lagi! Readmore...

ALT_IMG

LUPA TAPI INGAT

Semua goresan kehidupan dapat kita lupakan dengan begitu saja namun akan ingat pada saatnya. Readmore...

Monday, 1 December 2025

LANDASAN UTAMA BUDAYA MINANGKABAU

0 comments



LANDASAN UTAMA BUDAYA MINANGKABAU

A. Pengertian Budaya

1. Pengertian Budaya

Kata “Budaya” berasal dari Bahasa Sansekerta “Buddhayah”, yakni bentuk jamak dari “Budhi” (akal). Jadi, budaya adalah segala hal yang bersangkutan dengan akal. Selain itu kata budaya juga berarti “budi dan daya” atau daya dari budi. Jadi budaya adalah segala daya dari budi, yakni cipta, rasa dan karsa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia budaya artinya pikiran, akal budi, hasil, adat istiadat atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari

Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

Jadi, kebudayaan mencakup semuanya yang di dapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif. Artinya, mencakup segala cara-cara atau pola-pola berpikir, merasakan dan bertindak. Seorang yang meneliti kebudayaan tertentu akan sangat tertarik objek-objek kebudayaan seperti rumah, sandang, jembatan, alat-alat komunikasi dan sebagainya

2. Ciri-Ciri Budaya

Ada beberapa macam ciri-ciri budaya atau kebudayaan, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Budaya bukan bawaan tapi dipelajari.

b. Budaya dapat disampaikan dari orang ke orang, dari kelompok ke kelompok dan dari generasi ke generasi.

c. Budaya berdasarkan simbol.

d. Budaya bersifat dinamis, suatu sistem yang terus berubah sepanjang waktu.

e. Budaya bersifat selektif, merepresentasikan pola-pola perilaku pengalaman manusia yang jumlahnya terbatas.

f. Berbagai unsur budaya saling berkaitan.

g. Etnosentrik (menganggap budaya sendiri sebagai yang terbaik atau standar untuk menilai budaya lain).

Selain penjelasan ciri-ciri budaya atau kebudayaan di atas, kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia mempunyai ciri atau sifat yang sama. Dimana sifat-sifat budaya itu akan memiliki ciri yang sama bagi semua kebudayaan manusia tanpa membedakan faktor ras, lingkungan alam, atau pendidikan. Yaitu sifat hakiki yang berlaku umum bagi semua budaya dimanapun. Sifat hakiki dari kebudayaan tersebut antara lain :

a. Budaya terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia.

b. Budaya telah ada terlebih dahulu daripada lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.

c. Budaya diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya. Budaya mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban,

tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang, dan tindakan-tindakan yang diizinkan.


3. Fungsi Budaya

Budayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Bermacam kekuatan yang harus dihadapi masyarakat dan anggota-anggotanya seperti kekuatan alam, maupun kekuatan-kekuatan lainnya di dalam masyarakat itu sendiri tidak selalu baik baginya. Selain itu, manusia dan masyarakat memerlukan pula kepuasan, baik di bidang spiritual maupun materiil. Kebutuhan- kebutuhan masyarakat tersebut di atas untuk sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri. Dikatakan sebagian besar karena kemampuan manusia terbatas sehingga kemampuan kebudayaan yang merupaka hasil ciptaannya juga terbatas di dalam memenuhi segala kebutuhan


B. Budaya Minangkabau

Budaya Minangkabau adalah budayaan yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau dan berkembang di seluruh kawasan berikut daerah perantauan Minangkabau. Kebudayaan Minangkabau juga dapat dikatakan sebagai segala hal yang mempengaruhi sistem ide dan pola pikir masyarakat etnik yang menjunjung adat Minangkabau, dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat tersebut.

Adat dan budaya Minangkabau mempunyai falsafah hidup yaitu adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Falsafah ini mempunyai makna yang luas dan pemahaman yang sangat banyak. Falsafah adat ini memiliki arti bahwa adat Minangkabau berlandaskan kepada kitabullah yaitu Al-Qur‟an. Dari falsafah itu jelaslah bahwasanya setiap yang diajarkan dalam Islam juga diajarkan dalam adat dan kebudayaan Minangkabau.

Minangkabau adalah salah satu suku yang berada di Nusantara. Minangkabau secara adimistratif berada di Sumatera Barat, sedangkan secara geografis wilayah kebudayaan Minangkabau berada di Sumatera Barat kecuali Kepulauan Mentawai, sebagian daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan Negeri Sembilan di Malaysia ( Navis, 1984). Minangkabau memiliki wilayah yang cukup luas dengan keanekaragamannya. Semua hal yang ada tersebut sangat terlihat kolerasinya di dalam kehidupan sosial budaya masyarakatnya. Mulai dari kepercayaan, bahasa, mata pencaharian, peninggalan, kesusastraan, serta sikap dan prilaku masyarakatnya membuat

Minangkabau menjadi sebuah pendukung kebudayaan yang sangat kompleks. Selain hal tersebut masih ada bentuk kesenian yang hidup dan terus berkembang di kalangan masyarakat sesuai dengan perkembangan zaman. Dari segi makanan dan kekhasan kuliner masyarakat Minangkabau, telah membuat harum suku bangsa Minangkabau di dunia seperti halnya harum makanan yang dibuat dan dirasakan bersama

Dalam hal sistem kekerabatan, matrilineal merupakan salah satu aspek utama dalam mendefinisikan identitas masyarakat Minangkabau. Adat dan budaya mereka menempatkan pihak perempuan bertindak sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan. Garis keturunan dirujuk kepada ibu yang dikenal dengan Samandeh (se-ibu), sedangkan ayah mereka disebut oleh masyarakat dengan nama Sumando (ipar) dan diperlakukan sebagai tamu dalam keluarga (Maryelliwati,1995).

Dalam sistem matrilineal terdapat tiga unsur yang paling dominan, yaitu: garis keturunan “menurut garis ibu”, perkawinan harus dengan kelompok lain, di luar kelompok sendiri yang sekarang lebih dikenal dengan istilah eksogami matrilineal, dan ibu memegang peran sentral dalam pendidikan, pengamanan kekayaan, dan kesejahteraan keluarga (Amir, 2011:9).

Sistem matriliniel menempatkan segala persoalan dengan kaum perempuan menjadi lebih penting, dan menjadi tanggung jawab bersama kaumnya. Oleh karena itu, eksistensi perempuan Minangkabaupun terlihat menempati posisi penting menuju kemuliannya, karena kemulian seorang perempuan sangatlah utama begitulah yang diharapkan oleh adat Minangkabau dan juga ajaran Islam.


C. Keterikatan Budaya Minangkabau dengan Agama Islam

Prinsip adat Minangkabau tertuang singkat dalam pernyataan "Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah" (Adat bersendikan hukum, hokum bersendikan Al-Qur'an) yang berarti adat berlandaskan ajaran Islam (Navis, 1984). Jika tidak beragama islam berarti seseorang itu tidaklah merupakan bagaian dalam masyarakat Minangkabau, itulah pemaknaan dari pernyataan tersebut. Islam masuk ke Sumatra Barat pada 1500-an, menggantikan animisme dan Buddhisme melalui tepi pantai. Pada zaman itu munculah beberapa aliran tarekat di pesisir pariaman.

Tarekat adalah suatu jaringan sosial global dan hierarkis yang dikepalai seorang syekh dan murid-muridnya mengajarkan suatu cara beribadah yang khas. Syekh yang terkenal di Sumatera Barat itu adalah Syekh Burhanuddin di Ulakan. Minangkabau sejak dahulu hingga sekarang, tatanan kehidupan masyarakatnya sangat ideal karena didasari nilai- nilai,norma-norma adat dan agama islam yang menyeluruh,dalam satu ungkapan adat berbunyi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Adat dan syarak di minangkabau merupakan benteng kehidupan dunia akhirat yang disebutkan dalam petatah adat “ kesudahan adat ka balairung,kasudahan syarak ka akhirat”. Orang minangkabau terkenal dengan adatnya yang kuat. Adat sangat penting dalam kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu dalam petatah mminangkabau diungkapkan,hiduik dikanduang adat. Ada empat ungkapan adat di minangkabau (Hakimy, 2001), yaitu :

1. Adat Nan Sabana Adat

Adat nan sabana adat adalah kenyataan yang berlaku tetap di alam, tidak pernah berubah oleh keadaan tempat dan waktu. Adat nan sabana adata tersebut pada kenyataannya tersebut mengandung nilai-nilai, norma dan hukum. Pada hakikatnya jugalah adat nan sabana adat ini menjadi sebuah kelaziman yang terjadi sesuai dengan kehendak Allah. Maka oleh sebab itu adat minangkabau tidak bertentangan dengan ajaran islam atau dalam falsafatnya adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

2. Adat Nan Diadatkan

Adat nan diadatkan adalah adat buatan yang dirancang dan disusun oleh nenek moyang orang minangkabau untuk diterapkan dalam kehidupan sehari- hari dalam kehidupan bermasyarakat. Inti dari adat nan diadatkan yang dirancang Datuak Parpatiah Nan Sabatang ialah demokrasi, berdaulat kepada rakyat dan mengutamakan musyawarah untuk mufakat. Adat yang disusun Datuak Katumanguangan intinya melaksanakan pemerintahan yang berdaulat ke atas, otokrasi namun tidak sewenang-wenang. Kedua konsep adat itu berlawanan. Namun dalam pelaksanaannya kedua konsep itu bertemu,membaur dan saling mengisi. Gabungan keduanya melahirkan demokrasi yang khas di minangkabau  tanpa  ada  pergeseran  dan  pertentangan  di  dalam  adat Minangkabau sampai saat ini.

3. Adat Nan Taradat

Adat nan taradat adalah ketentuan adat yang disusun di nagari untuk melaksanakan adat nan sabana adat dan adat nan diadatkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan nagarinya. Adat nan taradat disebut juga adat babuhua sentak, artinya dapat diperbaiki, diubah dan diganti. Fungsi utamanya sebagai peraturan pelakasanaan dari adat minangkabau. Contoh penerapannya antara lain dalam upacara batagak pangulu ,turun mandi, sunat rasul dan perkawinan yang selalu dipagari oleh ketentuan agama, dimana syarak mangato adaik mamakaikan (agama mengatakan, adat memakai).

4. Adat Istiadat

Adat istiadat merupakan aturan adat yang dibuat dengan mufakat niniak mamak dalam suatu nagari. Adat istiadat umumnya tampak dalam bentuk kesenangan anak nagari seperti kesenian, langgam dan tari serta olahraga. Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah adalah batu pojok bangunan masyarakat minangkabau yang unggul,lalu pandangan dunia dan pandangan hidup yang menata seluruh kehidupan masyarakat minangkabau dalam arti kata dan kenyataan yang sesungguhnya.


D. Sejarah Sumpah Sati Bukik Marapalam

Sumatra Barat merupakan suatu daerah yang memiliki beragam sejarah dan peninggalan, contohnya seperti perjanjian adat Bukik Marapalam yang mana pejanjian ini bertujun untuk mencari kedudukan agama dan adat bagi masyarakat yang di pelopori oleh pemuka adat dan kalagan ulama. Perjanjian ini mempertemukan Syekh Burhanuddin bersama pembuka adat dari rantau pada tahun 1650M dengan temannya yaitu Tuangku Bayang, Tuangku Buyuang Mudo, Tuanku Padang Gantiang, Tuanku Kubung (Lima Serangkai).

Pertemuan ini didampingi oleh Rajo Rantau Nan Sabaleh yaitu Rajo Sampono, Rajo Said, Rangkayo Batuah, Rajo Dihulu, Malakewi,Rajo Mangkuto, Malako, Rajo Sulaiman, Majo Basa, Panduko Magek, Tanbasa. Rajo Rantau Nan Sabaleh merupakan  pemegang  kendali  pemerintahan  alam  Minangkabau  dan membincangkan agama, syariat dan adat. Letak terjadinya pertemuan ini di Puncak Pato berasal dari petuah yang dihadiri Basa Ampek Baleh dan penghulu terkemuka di Luhak Nan Tigo.

Isi dari perjanjian Bukik Marapalam yang berbunyi “ Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Atas qodrat dan iradat Allah SWT, telah dipertemukan di tempat ini hamba-hamba Allah untuk memperkatakan adat dan syarak yang akan dipakai mati yang akan di topang, bahwa adat dan syarak di kukuhkan menjadi pegangan di alam Minangkabau, dengan ini kami sambil menyerakan kepada Allah SWT sambil mengikuti kata Muhammad SAW. Penghulu kaganti Nabi, Rajo kaganti Allah Kami mengikhrarkan bahwa “Adaik Basandi Kapado Syarak, Syarak Basandi Kapado Kitabullah, Syarak Makato Adaik Mamakai.”

Dengan perjanjian tersebut dituliskan bahwa atas nama Syarak Syehk Burhanuddin Ulakan dan atas nama kaum adat Basa Ampek Balai Titah di Sungai Tarap dan disetujui oleh raja Alam yang di pertuankan di Pagaruyuang. Setelah selesai ikhrar Bukik Marapalam lalu Basa Ampek Baleh dan Syehk Burhanuddin dan rombongan meminta pengesahan kepada yang di pertuankan Rajo Alam Minangkabau di Pagaruyuang yang disaksikan oleh Rajo Adat dan Ibadat. Sejak di kukkuhkanya perjanjian bukit marapalam oleh pemuka adat dan agama Minangkabau maka dilakukan penebaran kesepakatan oleh kedua belah pihak.hujud perjanjian itu di tuangkan dalam filosofi adat yang popular dengan sebutan pepatah adat basandi sarak sarak basandi kita bullah (adat mesti didasarkan pada agama agama pada khitap Allah). Syarak mengato adaik mamakai, (Agama Islam memberikan fatwa adat yang melaksanakannya) Adaik buruk (jahiliyah dibuag,adaik yang baik (Islamiyah) dipakai(Maksudnya adat yang baik sesuai dengan norma Islam harus dipertahankan sementara adat buruk yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam harus dibuang.) Syarak dan adat itu bak aur jo tabing, sanda menyanda kaduonya (Antara adat dan agama itu layak aur dan tebing yang saling memperkuat atau tidak ada antagonistik di dalam kedua filosofi hidup ini). Disebut lagi dalam salah satu kaedah hukum Islam al'adatul muhkamah (Adat itu menghukumi, artinya mempunyai kekuatan hukum). Syarak Mandaki adaik manurun, (Agama bersumber dari Ulakan menuju pusat kerajaan Minangkabau di Pagaruyung, yang tempatnya Ulakan di dataran rendah sedangkan Pagaruyung berada di dataran tinggi Minangkabau).

Kesepakatan Bukit Marapalam merupakan babak baru dari perjalanan kehidupan sosial budaya dan agama dalam masyarakat Minangkabau, dan sekaligus menjadi starting point bagi Syekh Burhanuddin dalam menyebarkan paham keagamaannya secara lebih luas dan diterima oleh semua lapisan masyarakat di Minangkabau. Lebih penting lagi perjanjian bukit marapalam juga puncak dari kompromi ideologis yang cukup penting dalam sejarah intelektual pemuka adat dan agama, yang patut didalami oleh generasi muda Minang di masa depan.

Di lain pihak, ada pendapat yang menempatkan perjanjian Bukit Marapalam sebagai pucak integrasi dan sintesis akhir dari konflik cultural, baru terjadi pada abad ke 19 Masehi, yakni setelah berakhirnya Perang Paderi. Sisi lain yang patut dipahami bahwa Perjanjian Bukit Marapalam adalah merupakan suatu mata rantai dari penyesuaian adat dan Islam di Minangkabau. Penyesuaian adat dan Islam telah mengalami tiga priode besar yaitu:

1. Masa di mana adat dan hukum Islam berjalan sendiri sendiri dalam batas yang tidak saling mempengaruhi, yang dimunculkan dalam pepatah adat "Adat Basandi Alur dan Patut, dan Syarak Basandi Dalil"ini adalah masa-masa awal Islam di Minangkabau, di mana dominasi adat sangat begitu kuat dan Islam belum lagi masuk ke dalam sistim sosial masyarakat.

2. Priode sama-sama dilakukan keduanya, artinya adat dan Islam telah masuk kedalam sistem sosial masyarakat namun masih belum berpengaruh, karena ia baru saja diterima oleh masyarakat dan nilai-nilai moral yang dibawa Islam sejalan dengan pesan adat Minangkabau. Pepatah adatnya pada masa ini " Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Adat".

3. Priode ketiga lahir sebagai buah dari ketidakpuasan diantara ulama terhadap gerakan Paderi yang pada mula bertujuan untuk membersihkan agama dari pengaruh adat, kemudian menjadi perebutan kekuasaan antara kaum agama dan kaum adat, sayang kedua-duanya kalah dan Belanda berhasil memasuki Menangkabau. Puncak ketidakpuasaan dua kelompok ini melahirkan akomodasi dan itu dituangkan dalam Perjanjian Bukit Marapalam, sehingga melahirkan filosofi adat "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah".

Perjanjian bukit marapalam itu adalah bentuk final dari persenyawaan adat dan agama di alam Minangkabau. Meskipun tidak dapat dipungkuri bahwa pemerintahan di Minangkabau diatur menurut dua sistem, yaitu Sistem Koto Piliang dan Sistem Bodi Caniago. Gagasan yang dituangkan oleh Datuk Katumanggungan disebut laras Koto Piliang, sedangkan yang dituangkan atau dititahkan oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang dikenal dengan laras Bodi Caniago. Kedua kelarasan ini melahirkan aturan-aturan adat yang menjadi pandangan hidup orang Minangkabau yang didasarkan kepada ketentuan nyata yang terdapat dalam alam kehidupan dan alam pikiran seperti yang ditemukan dalam pepatah "alam takambang menjadi guru".


E.  Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

1. Sejarah Falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”

Falsafah hidup masyarakat Minangkabau "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” bermula dari “Sumpah Satie” yang dideklarasikan oleh pemuka adat dan kaum ulama di Bukit Marapalam yang terletak di Kabupaten Tanah Datar. Sumpah Satie Bukit Marapalam merupakan suatu kesepakatan yang mendasar serta kebulatan tekad dari pemuka adat dan agama islam terdahulu di Minangkabau.Awal mula Islam datang ke minangkabau melalui daerah pesisir (rantau), disambut oleh penghulu –penghulu dalam Luhak nan Tigo Lareh Nan Duo dengan tangan terbuka. Sehingga akhirnya agama islam semakin berkembang dengan pesat di alam Minangkabau. Seiring perkembangan agama islam tersebut yang sangat pesat, sering terjadi perselisihan antara kaum adat dengan alim ulama. Hal tersebut dikarenakan sebagian nilai –nilai yang dimaklumkan oleh kaum adat tidak disetujui oleh alim ulama seperti basaluang, barabab, manyabuang, bajudi, badusun bagalanggang, basorak, basorai, dan lain –lain. Dan ada juga dari nilai dari agama yang tidak dapat dibenarkan menurut adat seperti perkawinan sepasukuan.Demi memelihara persatuan dan kesatuan dalam nagari, diturutsertakanlah orang–orang pandai dan terkemuka mencari air nan janih sayak nan landai untuk mewujudkan perdamaian antar penghulu dan alim ulama. Kaum adat meninggalkan permainan yang bertentangan dengan agama seperti menyabung, berjudi dan sebagainya yang tidak sesuai dengan syariat. Begitu juga alim ulama, tidak membenarkan serta melarang perkawianan sepasukuan dan lain lain sehingga tercapailah kata sepakat.Dalam pelaksanaan dan perjalanan perkembangan falsafah tersebut menimbulkan pepatah pepatah yang mengiring yaitu:

a. “Syarak yang mengata, adat yang memakai” dipakai adat yang berdasarkan kata yang diambil kata syara’ berasal dari Al-Qur’an, sunah dan fikih.

b. “Syarak bertelanjang, adat berkesamping”, yang bermakna apa yang dikatakan oleh syarak adalah terang dan tegas, tetapi setelah dijadikan adat diaturlah prosedur yang sebaik baiknya.

c. “Adat yang kawi, syarak yang lazim”, menegaskan bahwanya adat tidaklah berdiri kalau tidak di-kawi-kan, kawi sendiri yang berasal dari bahasa arab qawyyun yang berarti kuat. Adat tidak ada jika tidak dikuatkan, syarak tidak akan berjalan jika tidak dilazimkan.

Setelah disepakati diadakanlah pertemuan besar di atas Bukit Marapalam yang terletak antara Lintau dan Sungaiyang yang dihadiri oleh penghulu, alim ulama serta orang terkemuka dari Luhak nan Tigo dan Lareh nan Duo. Dalam pertemuan tersebut diikrarkan bersama –sama dan menjunjung tinggi keindahan yang telah dibuat bersama orang –orang pandai dan terkemuka, yaitu: Penghulu rajo dalam negeri, kato badanga, pangaja baturuik, manjua jauah, manggantuang tinggi. Alim ulama suluah bendang dalam nagari, air nan janih, sayak nan landai tempat batanyo di penghulu.Pada implementasinya alim ulama memfatwakan dan penghulu memerintahkan, disinan ditanam Rajo Adat di Buo dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus. Pada bagian penutup sumpah satie tersebut, siapa yang melanggar: “Ka ateh indak bapucuak, ka bawah indak baurek, di tangah digiriak kumbang, akan dimakan biso kewi”.

2. Jati Diri Masyarakat Minangkabau Pada Falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”

 Falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” mengandung beberapa nilai filosfofis atau prinsip dasar yang dapat dijadikan struktur dalam kehidupan sosial masyarakat minangkabau. Beberapa falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” antara lain :

a. Falsafah Alam Takambang Jadi Guru

"Alam Takambang Jadi Guru" merupakan suatu falsafah pendidikan masyarakat Minangkabau dalam dasar pembentukan karakter melalui kearifan lokal yang bersumber dari alam sebagai tempat belajar. Alam merupakan guru yang sebenarnya bagi manusia yang dapatmemberikan hikmah dan ikhtiar (Nengsi & Eliza, 2019). Filosofi ini mendorong manusia untuk menghargai dan belajar dari alam, serta memanfaatkannya sebagai sumber inspirasi dan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

b. Falsafah adab dan Budi

Falsafah adab dan budi merupakan substansi dan esensi dari ajaran adat Minangkabau, mengingat kemuliaan manusia menurut adat terletak pada budi, dan karena hal tersebut manusia memiliki nilai didalam kehidupan. Diingatkan dalam gurindam minang mengenai adab dan budi pekerti, seperti berikut:Nan kuriak iyolah kundiNanindah iyolah basoNan baiak iyolah budiNan indah iyolah basoMaknanya tidak lain bahwa tidak ada yang lebih baik dari pada budi dan tidak ada yang lebih indah dari baso –basi. Dalam konteks lebih hakiki, yang dicari dalam hidup bukanlah emas, perak, pangkat dan juga status melainkan akhlak dan nama baik. Landasan budi pekerti berasal dari budi pekerti Rasulullah SAW. Rasulullah juga bersabda bahwa “Innama bu‟itstu liutammima makarimal akhlak”, bahwa tujuan utama diutusnya dia sebagai rasul oleh Allah adalah dalam rangka menyempurnakan akhlak manusia

c. Falsafah ‘Rajo’ Mufakat

Falsafah yang mengungkapkan bahwa adat masyarakat minangkabau sangat menjunjung tinggi azas musyawarah nan bajanjang naik, nan batanggo turun dalam mencari dan menghasilkan kata sepakat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Menurut A.A Navis, Minangkabau adalah negeri ‘kampiun demokrasi’ di dunia, hal tersebut dibuktikan dengan dibentuknya lembaga demokrasi secara formal maupun informal seperti tungku nan tigo sajarangan yang merupakan wujud kelembagaan demokrasi yang terdiri dari Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai, jauh sebelum azas musyawarah yang dirumuskan dan diformalkannya dalam Undang –Undang Dasar 1945 oleh para pendiri bangsa negara ini.Musyarah memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau agar tercapainya kesepakatan yang dihasilkan bersama –sama, yang mana diungkapkan dengan kata berikut:

bulek aie ka pambuluah bulek kato jo mupakat,

bulek lah buliah digolongkan, pipiah lah buliah dilayangkan

d. Falsafah Kebersamaan dan Keterpaduan

Didalam kehidupan masyarakat Minangkabau, kebersamaan, kekompakan merupakan falsafah yang dijunjung tinggi hal tersebut dibuktikan dalam sifat gotong royong dalam menyelesaikan sutau pekerjaan dalam kehidupan sehari –hari. Menurut masyarakat Minangkabau, tidak ada pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan asalkan selalu mengedepankan semangat kebersamaan dalam setiap masalah yang dihadapi dengan menggunakan prinsip raso jo pareso. Raso dibao naiak, pareso dibao turun, sebuah keselaran yang indah antara hati dan akal sehat dalam menjalan sifat gotong royong dan kebersamaan.

Ada ungkapan adat yang menjelaskan : Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun. Saciok bak ayam, sadanciang bak basi. Mandapek samo balabo, kahilangan samo marugi, yang mana dalam ungkapan tersebut memiliki makna tolong menolong dan kerjasama.


F. Cara mengimplementasikan ABS SBK dalam Pembelajaran di SD

Penerepan Adat Basandi syarak dan syarak Basandi Kitabullah selalu dituangkan dalam acara acara pernikahan, tabuik hoyak di pariaman, dan acara acara lain yang impelemtasinya tetang pemakaian adat, hal ini tidak jarang kita temui di berbagai daerah di seluruh negara indonesai sampai sampai negara indonesia adalah negara yang setiap aktifitas tidak pernah lewat dari ketentaun adat. Tetapi dalam hal ini penulih lebih tertarik untuk menuangkan pemikiran tentang adat yang ada di ranah minangkabau. Utamanya dalam hal pernikahan yaitu tentang pelaksanaan tradisi Mantaan Nasi Panambai di Padang Luar Nagari III Koto. Pelakanaan Tradisi maanta nasi Panambai ini secara garis besar dapat dilihat dari 5 point. Proses tradisi maanta nasi panambai yaitu Nasi panambai diantar ke rumah keluarga/ mamak laki laki, yang dilakukan oleh ibu ibu dari pihak perempuan sebanyak 4 cambuang nasi, 4 galeh sala bada, 4 galeh samba rendang dibungkus pakai basambek, 4 nasi tersebut diantarkan ke ibu dari calon mempelai laki laki, mamak kepala kaum pihak bako mempelai, laki laki mengantarkan nasi panambai memakai baju sambek batngkuluak gadang. Setelah itu nasi yang diantar tadi di tukar dengan beras, setelah itu mamak dari pihak perempuan memusyawarahkan hari yang dipakai untuk baralek.(Munir 2018). berikut penerapan ABS SBK dalam Pembelajaran di SD :

1. Perencanaan Pembelajaran Guru menyusun modul ajar atau RPP yang memuat tujuan pembelajaran, indikator, dan rubrik penilaian. Indikator disusun berdasarkan capaian kompetensi dan Profil Pelajar Pancasila.

2. Pelaksanaan Pembelajaran Guru melibatkan siswa secara aktif melalui kegiatan seperti menggambar, menari, menyanyi, membuat kerajinan, atau bermain peran. Pendekatan Project Based Learning (PjBL) atau Discovery Learning dapat diterapkan untuk menumbuhkan kreativitas dan kolaborasi.

3. Pelaksanaan Asesmen Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran (asesmen formatif) dan di akhir kegiatan (asesmen sumatif). Siswa juga didorong membuat portofolio yang berisi dokumentasi hasil karya mereka.

4. Refleksi dan Umpan Balik Setelah asesmen, guru dan siswa melakukan refleksi bersama untuk mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan proses belajar. Guru memberikan umpan balik agar siswa dapat meningkatkan kemampuan berkaryanya.

5. Pelibatan Sekolah dan Komunitas Sekolah mendukung pelaksanaan ABS SBK dengan menyediakan sarana dan kesempatan bagi siswa untuk menampilkan karya mereka, misalnya melalui pentas seni, pameran karya, atau lomba antar kelas. Orang tua dan masyarakat dapat dilibatkan sebagai apresian terhadap hasil karya siswa.


Continue reading →
Tuesday, 25 November 2025

Asesmen, Penilaian, Pengukuran, dan Evaluasi

0 comments


Asesmen, Penilaian, Pengukuran, dan Evaluasi

A. Pengertian Asesmen, Penilaian, Pengukuran, dan Evaluasi

1. Asesmen

Asesmen merupakan salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran, karena melalui asesmen guru dapat mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai. Dengan asesmen yang tepat, guru dapat mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan siswa, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta memastikan bahwa pembelajaran berlangsung sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, pemahaman mengenai fungsi asesmen sangat penting bagi pendidik agar asesmen tidak sekadar menjadi alat ukur, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara menyeluruh.

Asesmen adalah proses sistematis untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan informasi tentang hasil belajar peserta didik guna membuat keputusan yang tepat dalam pembelajaran. Dan menurut beberapa ahli, Nitko (2001) mendefinisikan asesmen sebagai proses sistematis dalam mengumpulkan informasi mengenai siswa untuk membuat keputusan pendidikan dan Brown (2004) menekankan asesmen sebagai prosedur pengumpulan data yang terstruktur melalui pengamatan, dokumentasi, dan interpretasi. Selain itu Mardapi (2008) menjelaskan bahwa asesmen adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa sebagai dasar pengambilan keputusan pendidikan.

Sedangkan asesmen otentik dapat diartikan menurut para ahli yaitu Wiggins (1990) bahwa asesmen otentik adalah bentuk penilaian yang meminta siswauntuk melakukan tugas dunia nyata (real-world tasks) yang menunjukkan penerapan pengetahuan dan keterampilan penting secara bermakna. Diperkuat dengan pendapat Mueller (2005) Asesmen otentik merupakan bentuk asesmen di mana siswa diminta untuk menunjukkan kemampuan dengan melaksanakan tugas-tugas nyata yang merepresentasikan aplikasi pengetahuan dan keterampilan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Jadi asesmen otentik di pendidikan dasar lebih menekankan pada kinerja nyata siswa yang mencerminkan penerapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam kehidupan sehari-hari. 

Guru tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga proses belajar siswa. Adapun Contoh Penerapan Asesmen Otentik di Pendidikan Dasar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu Tugas Otentik yaitu Siswa diminta menulis pengalaman pribadi tentang kegiatan di rumah dalam bentuk cerita pendek, kemudian membacakannya di depan kelas. Dan aspek yang Dinilai adalah kemampuan menulis (struktur kalimat, kosa kata), keterampilan berbicara (intonasi, kelancaran), serta sikap percaya diri.

2. Pengukuran

Pengukuran dalam pendidikan merupakan salah satu aspek penting yang berfungsi untuk memperoleh informasi secara objektif mengenai kemampuan, keterampilan, maupun sikap peserta didik. Melalui pengukuran, pendidik dapat menentukan sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai serta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki siswa. Proses ini dilakukan dengan menggunakan instrumen atau alat ukur tertentu yang terstandar sehingga hasil yang diperoleh dapat dipercaya dan digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, pengukuran menjadi langkah awal yang krusial dalam proses penilaian dan evaluasi, karena menyediakan data yang akurat untuk memperbaiki strategi pembelajaran dan meningkatkan mutu pendidikan.

Adapun pendapat tentang pengkuran menurut para ahli yaitu : Allen & Yen (1979) menjelaskan pengukuran sebagai pemberian angka pada atribut tertentu berdasarkan aturan. Mardapi (2008) menegaskan pengukuran menghasilkan informasi kuantitatif yang menjadi dasar penilaian. Azwar (2016) Pengukuran adalah proses pemberian angka terhadap suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang, objek, atau kegiatan berdasarkan aturan tertentu. Gronlund & Linn (1990) Measurement is the process of obtaining a numerical description of the degree to which an individual possesses a particular characteristic. Suharsimi Arikunto (2013) Pengukuran adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu secara kuantitatif. Jadi inti dari pengukuran adalah bahwa pengukuran bersifat kuantitatif, menghasilkan angka sebagai deskripsi kemampuan/karakteristik.

3. Penilaian

Penilaian merupakan salah satu komponen penting dalam proses pendidikan yang berfungsi untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai. Melalui penilaian, guru dapat memperoleh informasi mengenai kemampuan, pemahaman, serta perkembangan peserta didik sehingga dapat dijadikan dasar dalam menentukan tindak lanjut pembelajaran. Dengan demikian, penilaian tidak hanya berfungsi untuk mengukur hasil belajar, tetapi juga sebagai alat untuk memperbaiki proses pembelajaran agar lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Menurut Stiggins (1994) menyatakan penilaian adalah proses mengumpulkan dan menafsirkan informasi untuk mengetahui pencapaian siswa.

Menurut Permendikbud No. 23 Tahun 2016, penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Dan itko & Brookhart (2011), Assessment is a process of gathering, interpreting, and using evidence to help teachers make decisions about students’ learning. Kunandar (2013), Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Mardapi (2012), Penilaian adalah kegiatan untuk mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan menggunakan tolok ukur baik secara kualitatif maupun kuantitatif

4. Evaluasi

Evaluasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan karena berperan menilai ketercapaian tujuan pembelajaran. Melalui evaluasi, guru dapat mengetahui sejauh mana peserta didik memahami materi, serta menemukan area yang perlu ditingkatkan. Hasil evaluasi juga menjadi dasar dalam menentukan langkah perbaikan pembelajaran dan strategi mengajar, sehingga proses belajar dapat berlangsung lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa.bereprapa pendapat para ahli tentang evaluasi adalah Tyler (1950) mendefinisikan evaluasi sebagai upaya menentukan sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai. 

Arikunto (2012) menambahkan bahwa evaluasi merupakan penafsiran data hasil pengukuran untuk pengambilan keputusan. Tyler (1950), Evaluation is the process of determining the extent to which educational objectives are actually being realized. Stufflebeam & Shinkfield (2007), Evaluation is the systematic assessment of the worth or merit of an object. Suharsimi Arikunto (2013), Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai. Evaluasi lebih luas dari penilaian; tidak hanya menilai hasil belajar siswa, tetapi juga menilai program, metode, maupun proses pembelajaran.

B. Prinsip Asesmen

Seiring perkembangan kurikulum, pendekatan asesmen pun berubah, dari sekadar tes tertulis menuju asesmen otentik yang lebih menekankan pada penilaian proses, keterampilan, dan sikap nyata siswa. Agar asesmen berjalan dengan efektif dan sesuai tujuan, diperlukan prinsip-prinsip dasar sebagai pedoman. Prinsip asesmen adalah dasar atau landasan yang harus dipenuhi agar proses penilaian berjalan adil, objektif, dan bermanfaat.Prinsip-prinsip ini menjadi acuan bagi guru dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi asesmen, sehingga penilaian yang dilakukan benar-benar adil, objektif, valid, dan bermanfaat bagi perkembangan siswa.

Menurut McMillan (2007) dan Permendikbud No. 23 Tahun 2016, prinsip asesmen meliputi :

1. Sahih (Valid) yaitu Asesmen harus mengukur apa yang seharusnya diukur sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan.

2. Objektif yaitu Penilaian tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.

3. Adil yaitu Semua peserta didik memperoleh kesempatan yang sama tanpa diskriminasi.

4. Terpadu yaitu Penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran, bukan aktivitas terpisah.

5. Terbuka (Transparan) yaitu Prosedur, kriteria, dan hasil penilaian dapat diakses oleh semua pihak terkait.

6. Menyeluruh dan Berkesinambungan yaitu Penilaian mencakup semua aspek kompetensi (sikap, pengetahuan, keterampilan) dan dilakukan secara terus- menerus.

7. Sistematis yaitu Dilaksanakan dengan perencanaan yang baik dan terstruktur.

8. Beracuan Kriteria yaitu Mengacu pada pencapaian kompetensi, bukan perbandingan dengan kelompok lain.

9. Akuntabel yaitu Hasil penilaian dapat dipertanggungjawabkan secara prosedural maupun akademis.

C. Fungsi Asesmen

Fungsi asesmen tidak hanya terbatas pada menilai hasil belajar peserta didik, tetapi juga berperan dalam memberikan informasi yang akurat untuk memperbaiki proses pembelajaran, menentukan pencapaian kompetensi, serta merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif. Oleh karena itu, pemahaman mengenai fungsi asesmen sangat penting bagi pendidik agar asesmen tidak sekadar menjadi alat ukur, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara menyeluruh.

Menurut Nitko & Brookhart (2011), fungsi utama asesmen adalah sebagai alat untuk mengumpulkan informasi tentang capaian belajar siswa yang kemudian digunakan untuk pengambilan keputusan pendidikan. Sementara itu, Arikunto (2010) menekankan bahwa asesmen berfungsi untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran, memperbaiki proses belajar mengajar, dan memberikan umpan balik bagi guru maupun siswa. Selain itu, Popham (2014) menyatakan bahwa asesmen berfungsi tidak hanya untuk menilai hasil akhir belajar, tetapi juga sebagai sarana diagnostik dalam mengidentifikasi kesulitan belajar siswa serta memotivasi mereka untuk belajar lebih baik. Dengan demikian, fungsi asesmen mencakup aspek pengukuran, diagnosis, umpan balik, motivasi, hingga perbaikan proses pembelajaran, sehingga perannya sangat strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Menurut Gronlund (1998) dan Mardapi (2008), fungsi asesmen adalah:

1. Diagnostik yaitu mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan siswa.

2. Formatif yaitu memberikan umpan balik selama proses belajar.

3. Sumatif yaitu menentukan capaian akhir pembelajaran.

4. Selektif yaitu dasar pemilihan siswa pada program tertentu.

5. Motivasi yaitu menumbuhkan semangat belajar siswa.


D. Kegunaan Asesmen

Asesmen merupakan salah satu komponen penting dalam proses pendidikan karena berfungsi tidak hanya untuk menilai pencapaian hasil belajar peserta didik, tetapi juga memberikan berbagai kegunaan bagi guru, siswa, maupun pihak sekolah. Melalui asesmen, guru dapat mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai, sekaligus mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan peserta didik untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran. Bagi siswa, asesmen dapat memberikan umpan balik yang berguna untuk memperbaiki cara belajar serta memotivasi mereka agar lebih aktif dan bertanggung jawab terhadap proses belajar. Sementara itu, bagi sekolah dan pemangku kebijakan, hasil asesmen dapat dijadikan dasar dalam perencanaan, evaluasi program, serta peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Dengan demikian, kegunaan asesmen tidak hanya terbatas pada pengukuran hasil belajar, tetapi juga mencakup fungsi diagnostik, formatif, sumatif, hingga pengembangan strategi pembelajaran yang lebih efektif.

Menurut Airasian (2001), asesmen berguna untuk:

1. Mengetahui capaian hasil belajar siswa.

2. Memberikan informasi dalam pengambilan keputusan pembelajaran.

3. Menentukan efektivitas metode mengajar guru.

4. Menyediakan laporan perkembangan siswa kepada orang tua.

5. Menjadi dasar perencanaan tindak lanjut pembelajaran.


E. Jenis-Jenis Asesmen

Asesmen tidak hanya berfungsi untuk menilai hasil belajar, tetapi juga menjadi sarana untuk memperbaiki proses pembelajaran. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk memahami berbagai jenis asesmen yang dapat digunakan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Jenis-jenis asesmen pada dasarnya mencakup asesmen formatif, sumatif, diagnostik, dan asesmen penempatan, yang masing- masing memiliki fungsi dan karakteristik berbeda. Pemahaman terhadap perbedaan jenis asesmen ini akan membantu guru memilih bentuk asesmen yang tepat sehingga hasil yang diperoleh dapat mencerminkan kemampuan peserta didik secara lebih akurat dan komprehensif. Menurut Wiggins (1993), jenie-jenis asesmen ada tiga yaitu :


1. Berdasarkan Tujuan yaitu Diagnostik, Formatif, Sumatif.

2. Berdasarkan Cara Pelaksanaan berupa Tes (uraian, objektif, lisan, praktik) dan Non-Tes (observasi, portofolio, wawancara, penilaian diri, penilaian teman sejawat).

3. Berdasarkan Pendekatan berupa Asesmen tradisional (tes tertulis) dan asesmen otentik (tugas nyata, proyek, portofolio, kinerja)

Continue reading →
Monday, 15 September 2025

RPP / Modul Ajar Deep Leaening/ Pembelajaran Mendalam

0 comments


MODUL AJAR


A. IDENTITAS MODUL

    1. Penyusun : Febrio Rozalmi Putra

    2. Satuan Pendidikan : SD IT Imam Syafii Cendikia

    3. Fase/kelas : B/4

    4. Semester : Ganjil

    5. Mata pelajaran : Pendidikan Pancasila

    6. Elemen : Pancasila

    7. Materi : Makna Sila-Sila Pancasila

    8. Alokasi Waktu : 2 JP


B. IDENTIFIKASI 

Kemampuan Awal Siswa

    1. Siswa mengetahui lambang sila-sila pancasila

    2. Siswa mengetahui bunyi sila-sila pancasila

Dimensi Profil Lulusan

    1. Kewargaan: Siswa menjadi warga negara yang baik dengan mengamalkan makna sila-sila pancasila.

    2. Penalaran Kritis: Siswa menganalisis makna sila-sila pancasila.

    3. Kreativitas: Siswa bermain Make a Match untuk penguatan pemahaman.

    4. Kolaborasi: Siswa belajar kelompok dan berdiskusi tentang makna sila-sila pancasila.

    5. Komunikasi: Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dan kelompok lain menanggapi.


Materi Pelajaran

    1. Makna lambang sila pancasila

    2. Makna bunyi sila pancasila

    3. Makna butir sila pancasila


Tinjauan Pengetahuan

    1. Faktual: Contoh kasus dari makna sila-sila pancasila

    2. Konseptual: Makna sila-sila pancasila

    3. Prosedural: Berdiskusi tentang makna sila-sila pancasila

    4. Metakognitif: sadar akan pentingnya menerapkan makna sila-sila pancasila

Kaitan Kehidupan Sehari-Hari

    1. Melihat pada kehidupan sehari-hari tentang sikap yang sesuai dengan makna sila-sila pancasila.


Pembelajaran Bermakna

    1. Siswa mereview kembali pengetahuannya tentang simbol dan bunyi sila-sila pancasila.

    2. Siswa berkolaborasi dalam kelompok dan menerapkan sikap tolong menolong.

    3. Siswa dalam kelompoknya mendiskusikan makna tiap sila-sila pancasila.

    4. Siswa dapat menjelaskan bersama kelompoknya tentang makna tiap sila-sila pancasila.

    5. Siswa bermain make a match untuk penguatan tentang makna sila-sila pancasila.


C. DESAIN PEMBELAJARAN

1. Capaian Pembelajaran

    Mengidentifikasi makna sila-sila Pancasila, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari; mengenal karakter para perumus Pancasila; menunjukkan sikap bangga menjadi anak Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di lingkungan sekitar.


2. Tujuan Pembelajaran

    a. Dengan menggunakan media audio visual, siswa dapat menyebutkan lambang sila dan bunyinya dengan benar.

    b. Dengan belajar kelompok, siswa dapat menjelaskan makna tiap sila-sila pancasila dengan benar.

    c. Dengan metode make a match, siswa dapat mengelompokkan makna sila-sila pancasila dengan tepat.


3. Lintas Disiplin Ilmu

    Bahasa Indonesia: Kemampuan berbicara dengan mempresentasikan hasil kerja kelompok

    Pendidikan Agama Islam: Sikap-sikap terpuji


4. Praktik Pedagogis

    Pendekatan : Deep Learning

    Strategi : Student Active Learning

    Model : Cooperative Learning

    Metode : ceramah, tanya jawab, dan diskusi


5. Lingkungan Pembelajaran

    Ruang kelas IV


6. Pemanfaatan Digital

    Video contoh kasus makna sila-sila pancasila

       Power point ice breaking tebak warna


7. Kemitraan Pembelajaran

    Kolaborasi antar siswa dalam kelompok kecil.

    Diskusi bersama guru dan teman tentang hasil belajar kelompok.


8. Pertanyaan Pemantik

    Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, memiliki ribuan pulau, ratusan suku bangsa, menurut anak-anak apa bendera bangsa Indonesia? Lagu kebangsaannya? Semboyan negaranya? Dasar negaranya? Apakah ananda masih ingat lambang dan bunyi sila-sila pancasila?


9. Media Pembelajaran

Kartu makna sila-sila pancasila, Video kasus tentang makna sila-sila pancasila, infokus, laptop, papan tulis.


D. PENGALAMAN BELAJAR

1. Kegiatan Awal

a. Siswa menjawab salam yang diucapkan oleh guru

b. Berdoa menurut keyakinan masing-masing

c. Siswa mendengarkan guru yang melakukan absensi

d. Siswa menjawab pertanyaan guru yang menanyakan tentang kabar

e. Siswa memeriksa kondisi kelas (kebersihan)

f. Siswa mendengarkan guru yang membacakan tujuan pembelajaran

g. Siswa memperhatikan dan menjawab pertanyaan pemantik yang disampaikan oleh guru.


2. Kegiatan Inti

Sintak 1 : Menyampaikan Tujuan dan Motivasi

a. Siswa mendengarkan guru yang menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan.

b. Siswa mendengarkan guru yang memberikan pengarahan tentang motivasi dari pembelajaran hari ini.


Sintak 2 : Menyajikan Informasi

a. Siswa menyaksikan video yang ditayangkan oleh guru tentang permasalahan yang berkaitan dengan makna sila-sila pancasila.

b. Siswa diminta menjelaskan kembali isi dari video tersebut.

c. Siswa dan guru berdiskusi tentang video tersebut. (Mindful Leraning)


Sintak 3 : Mengorganisasi siswa ke dalam Kelompok

a. Guru sudah membagi siswa pada kelompoknya berdasarkan kemampuan dan kesiapan belajar siswa

b. Kelompok yang sudah terbentuk diberi nama sesuai dengan lambang sila pancasila

c. Siswa mendengarkan guru yang menjelaskan tentang peraturan belajar kelompok.

d. Siswa beserta guru menetapkan yel-yel masing- masing kelompok.

e. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tugas kelompok yang akan mereka kerjakan

f. Siswa dibagikan Lembar Kerja Kelompoknya

g. Setiap kelompok mendiskusikan Lembar Kerja Kelompoknya masing-masing. (Meanful Leraning)


Sintak 4 Membimbing Kelompok Bekerja dan Belajar

a. Siswa mengerjakan Lembar Kerja Kelompok pada kelompoknya masing-masing.

b. Guru membimbing siswa pada kelompoknya dengan cara mengecek dan melihat langsung.

c. Siswa di pantau keterlibatannya dalam proses diskusi bersama kelompok dan memastikan tiap kelompok dapat menyelesaikan dengan tepat waktu.

d. Guru memantau jalannya diskusi dan membantu kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan.


Sintak 5 Evaluasi Kerja Kelompok

a. Setiap kelompok bergantian mempresentasikan hasil kerja kelompoknya ke depan kelas

b. Siswa dipandu guru melakukan tanya jawab atau menanggapi tentang hasil kerja kelompok lain.

c. Siswa bermain make a match dengan materi makna sila-sila pancasila. (Joyful Leraning)

d. Siswa mengerjakan LKPD


Sintak 6 Memberi Penghargaan

a. Siswa bersama guru menjumlahkan point kelompok yang ada di papan tulis

b. Siswa dengan nilai kelompok yang paling tinggi diberi penghargaan atau hadiah


3. Kegiatan Penutup

a. Siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran hari ini

b. Guru dan murid melakukan kegiatan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dalam kegiatan refleksi, guru memberikan beberapa pertanyaan berikut :

c. Apa yang kamu pelajari hari ini?

Bagaimana perasaanmu setelah pembelajaran hari ini? Guru menutup pembelajaran dengan berdoa, dan salam.


E. ASESMEN 

Assessment As Learning: Penilaian Diri/ Self-Assessment

Assessment For Learning: Rubrik penilaian afektif/sikap saat diskusi dan rubrik penilaian psikomotor/keterampilan komunikasi dan keterampilan kolaborasi

Assessment Of Learning: Tes Tulis dalam bentuk soal menjodohkan dan soal esai 


Pekanbaru,  ....................




..................................................




Continue reading →
Thursday, 11 September 2025

Pola Pikir Bertumbuh VS Pola Pikir Tetap

0 comments



    Pola pikir bertumbuh (growth mindset) dan pola pikir tetap (fixed mindset) merupakan dua konsep utama dalam psikologi perkembangan yang dikemukakan oleh Carol S Dweck.

Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset):

    Ini adalah keyakinan bahwa kemampuan, kecerdasan, dan bakat seseorang dapat dikembangkan melalui usaha, belajar, dan pengalaman. Orang dengan pola pikir bertumbuh melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Mereka berani menghadapi tantangan, tekun dalam menghadapi kesulitan, dan termotivasi untuk terus berkembang. Mereka fokus pada proses dan strategi pembelajaran, bukan hanya hasil akhir. Sikap ini membangun mental yang kuat dan resilien dalam belajar dan kehidupan sehari-hari.



Pola Pikir Tetap (Fixed Mindset):

    Ini adalah pandangan bahwa kemampuan dan kecerdasan seseorang bersifat statis dan tidak bisa diubah. Orang dengan pola pikir tetap percaya bahwa kesuksesan lebih ditentukan oleh bakat bawaan, bukan usaha. Mereka cenderung menghindari tantangan, takut gagal, dan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Mereka sering menganggap kesalahan sebagai kegagalan permanen dan tidak mau belajar dari pengalaman.

    Perbedaan utama antara keduanya terletak pada sikap terhadap kegagalan dan tantangan: pola pikir bertumbuh memandangnya sebagai peluang untuk berkembang, sementara pola pikir tetap melihatnya sebagai batasan yang harus dihindari.


    Dengan mengembangkan pola pikir bertumbuh, individu dapat meningkatkan motivasi, rasa percaya diri, dan kemampuan belajar secara berkelanjutan

Continue reading →
Tuesday, 17 June 2025

Studi Kasus dengan Sudut Pandang Penerapan Culturally Responsive Teaching (CRT)

4 comments


Contoh kasus dengan sudut pandang penerapan Culturally Responsive Teaching (CRT)


Contoh Kasus 1

Pak Surya adalah guru matematika. Pekan ini Pak Surya akan menyampaikan materi mengenai perkalian. Sekolah Pak Surya berlokasi dekat dengan pasar dan sebagian besar dari orang tua peserta didik merupakan pedagang. Bagaimana kegiatan pembelajaran yang sebaiknya dirancang oleh Pak Surya dengan menerapkan pendekatan CRT?


JAWAB

Prinsip Dasar CRT (Culturally Responsive Teaching)

Pendekatan CRT menekankan pentingnya mengaitkan materi pelajaran dengan latar belakang budaya, pengalaman, dan kehidupan sehari-hari peserta didik agar pembelajaran menjadi lebih relevan, bermakna, dan meningkatkan keterlibatan siswa.

1. Identitas diri peserta didik: peserta didik diajak untuk mengenal identitas budayanya yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan;

Guru sudah mengetahui identitas dari peserta didiknya yaitu peserta didik yang berlatarbelakang orang pasar dan orang tuanya adalah pedagang.

2. Pemahaman budaya: peserta didik mengkonstruksikan pemahaman budaya dengan ilmu pengetahuan baru yang diperoleh dari berbagai sumber;

Peserta didik dapat diajak belajar ke pasar dengan konsep berbelanja. Misal setiap peserta didik diminta membawa uang Rp. 20.000,- kemudian diarahkan untuk berbelanja di pasar. Setiap belanja di catat dan diakhir kegiatan peserta didik merekap dan menguraikan dengan konsep perkalian (penjumlahan yang berulang). Atau guru bisa menghadirkan guru tamu yaitu orang tua siswa yang berdagang di pasar untuk mengenalkan konsep perkalian sederhana. 

3. Kolaborasi: peserta didik bekerja dalam kelompok untuk membahas konsep dan perspektif budaya;

Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok dan mengerjakan LKPD yang disusun guru terkait perkalian dan budaya orang-orang di pasar.

4. Berpikir kritis untuk refleksi: peserta didik membandingkan hasil diskusinya dengan teori yang ada dengan bimbingan guru; dan

Peserta didik mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas secara bergantian dan saling memberi saran, masukan, dan kritikan.

5. Konstruksi transformatif: peserta didik menyajikan pemahaman mereka melalui sebuah proyek.

Peserta didik dapat diberi tugas produk sesuai diferensiasi produk, bisa dengan membuat makalah, bermain peran, membuat poster, dan lainnya


Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

1. Pembukaan:

Guru membuka kelas dengan salam dan berdoa menurut agama masing-masing siswa.

Menyanyikan lagu wajib nasional untuk membangun suasana kebersamaan dan menghargai keberagaman.

2. Apersepsi dan Pemantik

Guru memulai dengan bertanya kepada siswa tentang pengalaman mereka di pasar, misalnya: “Siapa yang pernah membantu orang tua berdagang di pasar?” atau “Apa saja barang yang biasa dijual di pasar?”.

Guru mengaitkan topik perkalian dengan aktivitas perdagangan, seperti menghitung jumlah barang dagangan atau total harga barang.

3. Penyampaian Materi Perkalian

Guru menjelaskan konsep perkalian dengan menggunakan contoh nyata dari aktivitas di pasar, misalnya: “Jika satu pedagang menjual 5 ikat sayur dan setiap ikat berisi 4 batang, berapa total batang sayur yang dijual?”.

Menggunakan barang dagangan seperti buah, sayur, atau benda lain yang familiar sebagai alat peraga untuk  memperjelas konsep perkalian.

4. Kegiatan Inti (Praktik Kontekstual)

Siswa dibagi dalam kelompok majemuk untuk menyelesaikan soal-soal atau simulasi perdagangan di pasar, 

Guru dapat mengajak siswa bermain peran sebagai  pedagang dan pembeli, lalu mempraktikkan perkalian dalam transaksi jual beli.

Mengundang orang tua atau pedagang lokal untuk berbagi pengalaman tentang penggunaan matematika dala berdagang, sehingga siswa mendapatkan perspektif nyata.

5. Diskusi dan Presentasi

Setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka,misalnya cara menghitung jumlah barang atau keuntungan dagang menggunakan perkalian.

Guru memfasilitasi diskusi untuk mengaitkan pengalaman siswa dengan konsep matematika yang dipelajari.

6. Penutup dan Refleksi

Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan pembelajaran hari itu.

Melakukan refleksi, misalnya dengan bertanya: “Bagaimana matematika membantu kehidupan sehari-hari di pasar?”.

Memberikan apresiasi kepada siswa atas partisipasi dan  kerja sama mereka.

Kesimpulan

Dengan menerapkan pendekatan CRT, Pak Surya dapat merancang pembelajaran perkalian yang kontekstual, relevan, dan bermakna bagi siswa. Hal ini tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep matematika, tetapi juga membangun keterampilan sosial serta menghargai budaya dan pengalaman hidup siswa

 

Contoh Kasus 2


Ibu Nisa adalah guru Bahasa Sunda. Ibu Nisa menemukan bahwa peserta didiknya berasal dari berbagai suku dan hanya sebagian kecil yang merupakan Suku Sunda. Sebagian besar mereka mengalami kesulitan untuk mengikuti pembelajaran tersebut. Bagaimana strategi yang dapat dilakukan Ibu Nisa untuk dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dengan menggunakan pendekatan CRT?


JAWAB

Strategi Pembelajaran Bahasa Sunda yang Menyenangkan dengan Pendekatan CRT

1. Memahami Latar Belakang Siswa

Ibu Nisa perlu mengenali keberagaman budaya, bahasa ibu, dan pengalaman belajar siswa dari berbagai suku sebagai dasar merancang pembelajaran yang inklusif dan relevan.

Melakukan survei singkat atau diskusi ringan di awal pembelajaran untuk mengetahui pengalaman dan persepsi siswa terhadap Bahasa Sunda.

2. Mengaitkan Materi dengan Kehidupan Sehari-hari Siswa

Menggunakan contoh, cerita, atau situasi yang dekat dengan kehidupan siswa, seperti aktivitas di rumah, sekolah, atau lingkungan sekitar, sehingga materi terasa lebih bermakna.

Mengaitkan Bahasa Sunda dengan bahasa daerah lain yang dikenal siswa, misalnya membandingkan kosakata atau ungkapan sederhana dari berbagai bahasa daerah.

3. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Aman dan Inklusif

Mendorong siswa untuk saling menghargai perbedaan budaya dan bahasa, serta membangun suasana kelas yang mendukung keberanian mencoba tanpa takut salah.

Menggunakan ice breaking, permainan bahasa, atau aktivitas kelompok lintas suku agar siswa merasa diterima dan nyaman.

4. Menggunakan Media dan Metode Interaktif

Memanfaatkan lagu, permainan tradisional, video, gambar, atau drama sederhana berbahasa Sunda yang dapat dinikmati bersama-sama, sehingga pembelajaran terasa lebih menyenangkan.

Melibatkan siswa dalam proyek kreatif, seperti membuat poster, komik, atau vlog singkat tentang pengalaman belajar Bahasa Sunda.

5. Memberikan Pilihan dan Diferensiasi Tugas

Menyediakan variasi tugas sesuai kemampuan dan minat siswa, misalnya membolehkan siswa memilih antara menulis, berbicara, atau membuat karya seni dalam Bahasa Sunda.

Memberikan scaffolding atau bantuan bertahap, seperti glosarium sederhana, terjemahan, atau contoh kalimat, agar siswa yang belum terbiasa tetap bisa mengikuti.

6. Melibatkan Keluarga dan Komunitas

Mengajak siswa berdiskusi dengan anggota keluarga atau tetangga yang bisa berbahasa Sunda, lalu membagikan pengalaman mereka di kelas.

Mengundang narasumber dari komunitas Sunda untuk berbagi cerita atau budaya secara langsung.

7. Refleksi dan Umpan Balik Positif

Memberikan apresiasi atas usaha dan kemajuan siswa, bukan hanya hasil akhir.

Melakukan refleksi bersama tentang manfaat belajar Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari dan dalam membangun toleransi budaya.

Dengan menerapkan strategi di atas, Ibu Nisa dapat menciptakan pembelajaran Bahasa Sunda yang lebih menyenangkan, relevan, dan inklusif bagi semua siswa, sekaligus menumbuhkan rasa saling menghargai keberagaman budaya di kelas.


Continue reading →
Monday, 16 June 2025

Modul Ubd Pembelajaran Berdiferensiasi

12 comments


Modul Ajar Pembelajaran Berdiferensiasi


A. IDENTITAS MODUL

    1. Penyusun : Febrio Rozalmi Putra

    2. Satuan Pendidikan : SD IT Imam Syafii Cendikia

    3. Fase/kelas : C/5

    4. Semester         : Ganjil

    5. Mata pelajara     : IPAS

    6. Elemen          : Sosial dan Sains

    7. Materi         : Rantai Makanan

    8. Alokasi Waktu     : 3 JP


B. KOMPETENSI AWAL

    Peserta didik memiliki pengetahuan tentang hewan (Karnivora, Herbivora, dan Omnivora)


C. PROFIL PELAJAR PANCASILA

    1. Beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa

    2. Bernalar Kritis

    3. Bergotong royong

    4. Mandiri


D. SARANA DAN PRASARANA

    1. Laptop

    2. Proyektor

    3. Alat bantu audio

    4. Jaringan internet


E. SUMBER BELAJAR

    1. Buku IPAS kelas V terbitan Kemendikbud

    2. Buku IPAS kelas V terbitan Erlangga

    3. Google


F. TARGET PESERTA DIDIK

    Siswa regular kelas V yang berjumlah 27 orang


G. PENDEKATAN/MODEL DAN ATAU METODE PEMBELAJARAN

    Problem Based Learning (PBL)


H. CAPAIAN PEMBELAJARAN

    Peserta didik menyelidiki bagaimana hubungan saling ketergantungan antar komponen biotik-abiotik         dapat mempengaruhi kestabilan suatu ekosistem di lingkungan sekitarnya


I. TUJUAN PEMBELAJARAN

    2.1 Dengan menggunakan media gambar, murid dapat mengidentifikasi hubungan antar makhluk                     hidup yang berkaitan dengan makan dan di makan dalam bentuk rantai makanan dengan benar.

    2.2 Melalui menyimak tayangan video, murid dapat mengidentifikasi peran makhluk hidup pada                     rantai makanan dengan tepat.

    2.3 Melalui unjuk kerja, siswa dapat mendeskripsikan hubungan makhluk hidup pada jaring-jaring                     makanan di ekosistem yang lebih besar dengan benar.


J. PEMBELAJARAN BERMAKNA

    1. Peserta didik dapat mengetahui hubungan antar makhluk hidup yang berkaitan dengan makanannya             dalam bentuk rantai makanan.

    2. Peserta didik dapat mengetahui jenis makanan makhluk hidup.

    3. peserta didik dapat mengetahui peran makhluk hidup pada rantai makanan.

    4. Peserta didik dapat menghubungkan jaring-jaring makanan di ekosistem.


K. PERTANYAAN PEMANTIK

        Ananda siapa yang tadi makan sebelum berangkat sekolah? 

        Mengapa anak Bapak harus makan sebelum berangkat sekolah? 

        Dari mana anak Bapak mendapatkan energi tersebut?


L. KEGIATAN PEMBELAJARAN

    1. Kegiatan Awal

        a. Berdoa menurut keyakinan masing-masing

        b. Peserta didik mendengarkan guru yang melakukan absensi

        c. Peserta didik memperhatikan dan menjawab pertanyaan pemantik yang disampaikan oleh guru.

2. Kegiatan Inti

        Sintak 1 : Orientasi peserta didik pada masalah

        a. Guru menayangkan video rantai makanan dan menampilkan deskripsi cerita yang disertai                         dengan gambar terkait makan dan dimakan dalam bentuk rantai makanan melalui PPT.

        b. Peserta didik membaca dan mengamati gambar yang ditampilkan.

        c. Guru dan peserta didik bertanya jawab tentang rantai makanan yang ada di PTT

    Sintak 2 : Mengorganisasi peserta didik untuk belajar

        a. Guru membagi kelompok belajar berdasarkan gaya belajar siswa yaitu auditori, visual, dan                         kinestetik

        b. Guru membagikan LKPD sesuai dengan bakat dan minat peserta. (menggambar, menulis, dan                     berbicara)

        c. Setiap kelompok mendiskusikan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah disediakan dalam                 LKPD

        d. Diferensiasi proses

             Kelompok Visual: Guru menampil gambar rantai makanan, guru dan peserta didik bertanya                         jawab tentang rantai makanan yang di tampilkan

             Kelompok Auditori: Guru menampilkan lagu rantai makanan.

             Guru dan peserta didik menyanyikan lagu rantai makanan yang di tampilkan

             Guru dan peserta didik tanya jawab tentang rantai makanan yang di nyanyikan

             Kelompok Kinestetik : Guru menyiapkan alat untuk bermain peran

    Sintak 3 Membimbing penyelidikan kelompok

        a. Peserta didik mengerjakan LKPD

        b. Peserta didik diberi kesempatan untuk menanyakan hal yang belum mereka pahami 

        c. Guru membimbing kelompok untuk menyelesaikan LKPD. 

        d. Guru memberikan fasilitas dan kesempatan supaya peserta didik berkolaborasi dalam                                 pembelajaran sehingga peserta didik dapat termotivasi untuk menggali informasi dari berbagai                 sumber.

        e. Peserta didik di pantau dalam keterlibatannya dalam proses diskusi bersama kelompok dan                         memastikan tiap kelompok dapat menyelesaikan dengan tepat waktu.

       f. Guru memantau jalannya diskusi dan membantu kelompok atau peserta didik yang mengalami                     kesulitan.

        g. Guru melakukan penilaian sikap dan keterampilan menggunakan lembar observasi

    Sintak 4 Mengembangkan hasil karya

        a. Setiap kelompok bergantian mempresentasikan hasil kerja kelompoknya ke depan kelas 

        b. Peserta didik dipandu guru melakukan tanya jawab tentang hasil kerja kelompok lain.

Sintak 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

        a. Guru memberi penguatan atas hasil kerja kelompok

        b. Siswa dan guru menyepakati batas waktu penyelesaian tugas tersebut

        c. Guru dan peserta didik melakukan kegiatan ice breaking 

        d. Guru dan peserta didik membuat kesimpulan rangkuman hasil belajar tentang rantai makanan

3. Kegiatan Penutup

    a. Peserta didik diminta untuk mengerjakan secara mandiri lembar evaluasi yang diberikan guru.

    b. Siswa dan guru menyepakati batas waktu penyelesaian tugas tersebut

    c. Guru dan murid melakukan kegiatan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dalam         kegiatan refleksi, guru memberikan beberapa pertanyaan berikut :

    d. Apa yang kamu pelajari hari ini?

    e. Bagaimana perasaanmu setelah pembelajaran hari ini?

    f. Guru menutup pembelajaran dengan berdoa, dan salam


M. ASESMEN

LKPD Rantai Makanan

Nama :......................

Kelas :.......................

1. Amatilah gambar rantai makanan berikut dan letakkanlah kotak pada posisi yang tepat

2. Buatlah rantai makanan yang produsennya rumput dan konsumen finalnya singa! 

3. Susunlah rantai makanan berikut ini!



                                                Selamat Bekerja


Lembar Penilaian Proses





Pekanbaru, 16 Juni 2025

Pembuat Modul,



Febrio Rozalmi Putra


Hasil Telaah








Continue reading →
Monday, 26 May 2025

Puisi Perpisahan Sekolah 2025 "Sesudut Senyum Teduh"

0 comments




Sesudut Senyum Teduh

Karya Febrio Rozalmi Putra


Di sekolah ini kita bertumbuh dan termangu

Sejengkal kisah bermula enam tahun lalu

Rengek, raung, dan tantrum di depan pintu

Hanya sesudut senyum teduh yang mereka sebut guru

Mengganti senduh menjadi syahdu


Segenggam asa tergantung di langit-langit kelas

Pada tarian pena dan hentakan buku saling balas

Secangkir tawa beraromakan canda pengusir malas

Menuntut ilmu itu harus ikhlas!

Dirimu ucap penuh harap dan welas

Semoga kami menjadi anak yang cerdas


Kini putaran waktu terhenti, menyapa jiwa-jiwa kecil nan suci 

Selamat tinggal merah putih

Selamat tinggal meja dan kursi

Selamat tinggal

Aku pamit

Aku pamit, mencari ilmu, lanjutkan perjuangan tanpa tepi tanpa tapi


Padamu pahlawan ilmu, yang berdiri di sudut-sudut kelas tak jemu,

Memancangkan akidah dan menanam benih-benih iman

Memberi dengan sepenuh hati, mengajar dan mendidik tanpa letih

Kutitipkan rindu, rindu pada dirimu, wahai para guru 

Luasnya samudera hindia, tak seluas cinta kita

Pada SD IT Imam Syafii Cendikia



Pekanbaru, 29 Mei 2025


Continue reading →